Ratni213's Blog

April 11, 2010

Etika Muslim dalam Menggapai Kebutuhan Hidup

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 5:57 pm

• Oleh : Musafran Kosim

Istilah etika berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu etos yang berarti kebiasaan, adat, akhlak, watak, perasaan, sikap, dan cara berpikir. Kata yang paling dekat dengan etika adalah moral atau yang lazim disebut dengan akhlak.

Dalam ajaran Islam, akhlak memiliki peran yang sangat strategis. Bahkan akhlak dapat dikatakan sebagai ajaran Islam yang paling esensial. Nabi Muhammad SAW juga diutus dalam rangka memperbaiki akhlak manusia. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhori Muslim: “Hanya saja aku diutus ke permukaan bumi ini untuk memperbaiki akhlak manusia.”

Akhlak adalah perikeadaan jiwa manusia yang mampu melahirkan perbuatan-perbuatan lahiriah secara spontan. Akhlak yang baik akan melahirkan perbuatan yang baik, sebaliknya akhlak yang buruk akan melahirkan perbuatan yang buruk juga. Dalam dimensi vertikal maupun horizontal, akhlak diatur berdasarkan Al Quran dan Hadis Rasulullah SAW. Selanjutnya akhlak inilah yang diharapkan dapat lebih diutamakan oleh seorang muslim dalam menggapai segala kebutuhan hidupnya.

Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap optimis dalam menjalani kehidupan. Tapi optimisme tersebut harus didasari oleh kemampuan kerja dan ikhtiar yang memadai. Sebab Allah tidak akan memberikan pertolongan-Nya kepada orang yang pesimis dan malas berusaha. Dalam kaitan inilah, seorang muslim diharapkan agar senantiasa mengedepankan akhlak dalam mencapai kebutuhan hidupnya.

Hal itu perlu dilakukan, mengingat munculnya semacam kecenderungan masyarakat untuk memperoleh rejeki dengan cara yang tidak halal. Istilah “mencari rejeki yang haram saja sulit, apalagi yang halal” sudah merupakan ungkapan yang tidak asing lagi bagi masyarakat kita. Terutama bagi mereka yang merasa bahwa tidak ada lagi jalan lain yang harus ditempuh untuk mendapatkan rejeki yang halal.

Dalam konteks menggapai kebutuhan hidup, ada beberapa etika yang harus kita pelihara. Antara lain adalah sebagai berikut: Pertama, semua kegiatan dan aktivitas didasari oleh motivasi ibadah. Dalam Al Quran surat Az Zariyat ayat 56 dijelaskan bahwa jin dan manusia diciptakan untuk menyembah kepada Allah. Hal itu menunjukkan bahwa setiap muslim harus menyadari bahwa segala aktivitas yang dilakukannya dalam hidupnya merupakan pengabdian kepada Allah SWT.

Artinya, setiap muslim harus taat dan patuh atas dasar cinta kepada Allah. Petunjuk-petunjuk-Nya harus dipatuhi dan larangan-Nya harus dijauhi. Kesadaran seorang muslim akan tugas hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allah merupakan induk akhlak religius.

Kedua, bekerja adalah wajib dan mulia. Ayat-ayat Al Quran menyebutkan agar iman diikuti dengan amal saleh. Amal tidak lain adalah kerja nyata yang merupakan manifestasi dari iman. Bekerja mencari nafkah adalah kewajiban setiap manusia, maka menjadi kewajiban jugalah bagi para penguasa untuk menciptakan lapangan kerja. Bagi penguasa yang mampu menciptakan lapangan kerja, luar biasa pahalanya dan sangat mulia di sisi Allah SWT.

Ketiga, kasih sayang kepada sesama manusia. Dalam memenuhi kebutuhan hidup, seorang muslim harus menanamkan rasa kasih sayangnya kepada orang lain. Jangan gara-gara kebutuhan perut sejengkal, hak orang lainpun diabaikan bahkan dikorbankan.

Seorang muslim harus menyadari bahwa umat manusia merupakan keluarga besar dari manusia itu sendiri. Kasih sayang merupakan syarat mutlak untuk melestarikan nilai-nilai kekeluargaan di kalangan manusia. Hal ini ditegaskan Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Thabrani dan Hakim dari Ibnu Mas’ud yang berbunyi: “Berkasih sayanglah kamu dengan antara sesama yang ada di bumi, niscaya kamu akan disayangi oleh yang ada di langit.”

Keempat, mewujudkan maslahat dan menghindari mudharat. Dalam menggapai kebutuhan hidup, seorang muslim harus menghindarkan hal-hal yang dapat memudhoratkan (merugikan) orang lain. Karena tujuan utama ajaran Islam adalah terwujudnya kebaikan (maslahat) dalam hidup manusia, baik secara perorangan maupun sosial, jasmani maupun rohani, dunia maupun akhirat.

Oleh karena itu, semua kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya harus berorientasi pada nilai-nilai kebaikan. Mampu memberikan manfaat pada orang lain dan menghindari hal-hal yang mudharat. Kelima, mencari yang halal dan menghindari yang haram. Syariat Islam mengatur kehidupan manusia menuju terwujudnya kepentingan hidup yang membawa kepada kebaikan.

Oleh karenanya, Islam menganjurkan agar nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup diperoleh dengan cara-cara yang halal dan menghindari cara-cara yang diharamkan. Karena dapat dipastikan bahwa yang haram akan merugikan kehidupan manusia. Di antara yang haram dan yang halal ada juga perkara syubhat (samar-samar). Ini juga harus dihindarkan jika seorang muslim menginginkan kehidupannya menjadi hidup yang berkah.

Keenam, menegakkan keadilan. Islam mengajarkan agar dalam menggapai kebutuhan hidup diperhatikan juga nilai-nilai keadilan dan ihsan. Hal tersebut perlu ditegakkan, mengingat masyarakat lain juga barangkali memiliki hak yang sama terhadap kebutuhan tersebut. Dalam hal ini, adil dapat diberikan pengertiannya secara umum dengan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk memperoleh kebutuhannya sesuai dengan haknya. Lebih lugas Islam menegaskan agar seorang muslim tidak merampas hak orang lain secara semena-mena demi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ketujuh, menyadari bahwa apa yang dimiliki dan diusahai adalah amanah Allah. Dalam hal ini Islam mengajarkan bahwa alam semesta adalah ciptaan Allah. Sebagai pencipta, Alah adalah pemilik yang sesungguhnya (mutlak) segala sesuatu yang ada di alam ini. Meskipun demikian, Allah menciptakan manusia dengan naluriah-naluriah yang akan mendorong kegiatan hidupnya, terutama adalah naluriah berketurunan dan pemilikan. Dalam kaitan itu Islam mengajarkan bahwa hak milik manusia diakui adanya dan dilindungi keselamatannya.

Menyadari bahwa harta yang diperoleh manusia merupakan rejeki Allah, akan mendorong manusia untuk berusaha memperoleh harta secara halal dan membelanjakannya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Dengan membelanjakan harta secara halal maka akan selamatlah kita dalam mem pertanggungjawabkannya kepada Allah.

Sesuai dengan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa makna etika muslim dalam menggapai kebutuhan hidup adalah menyangkut cara bagaimana kebutuhan-kebutuhan hidup materill manusia dapat dipenuhi dengan landasan etika. Alam dan seluruh isinya disediakan Allah untuk kebutuhan hidup manusia. Dengan bekerja, manusia mengelola alam beserta isinya untuk kebutuhan hidupnya. Namun Islam mengajarkan etika yang benar dalam mengelola alam ini. Etika tersebutlah yang harus dipatuhi manusia, jika manusia ingin hidupnya maslahat.
Sumber :
http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=20227:etika-muslim-dalam-menggapai-kebutuhan-hidup&catid=85:opini

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: