Ratni213's Blog

Juni 7, 2010

Pengujian Object Oriented

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 3:07 am

Bahasa Prosedural :
– Serangkaian tugas diselesaikan dalam bentuk fungsi atau prosedur.
– program adalah suatu urutan instruksi.Cara pandang
– Programer harus me-break down suatu problem menjadi sub problem yang lebih simple.
– Fungsi dan prosedur menjadi fokus utama.
– Fungsi dan prosedur digunakan untuk memanipulasi data.
– Data bersifat pasif.

Object-Oriented Programming atau OOP :
– suatu paradigma pemrograman yang berorientasikan kepada objek.
– Fungsi dan data bukan menjadi dua hal yang terpisah.
– Fungsi dan data menjadi satu kesatuan yang disebut sebagai obyek aktif.
program adalah serangkaian- Cara pandang obyek yang bekerjasama untuk menyelesaikan suatu problem.

Apakah Objek itu :
Semua benda yang ada di dunia nyata dapat dianggap sebagai obyek. Contoh : rumah, mobil, sepeda motor, gelas, komputer, meja dll.

Karakteristik Objek :
– Setiap obyek memiliki atribut sebagai status (state).
– Setiap obyek memiliki tingkah laku (behavior) .
– Contoh: obyek sepeda
: pedal, roda, jeruji, warna, jumlah roda.* Memiliki atribut (state)
: * Memiliki tingkah laku (behavior) kecepatanya menaik, kecepatannya menurun, perpindahan gigi sepeda.
– Penggambaran pemrograman berorientasi obyek = penggambaran pada dunia nyata.
– Pada pemrograman berorientasi obyek:
variabel  * State disimpan pada
method * Tingkah laku disimpan pada

Terdapat Konsep dasar dari Pemrograman Berorientasi Objek :
1. Kelas :
– Definisi class: merupakan template untuk membuat obyek.
– Definisi class: merupakan prototipe / blue prints yang mendefinisikan variabel – variabel dan method – method secara umum.
– Obyek merupakan hasil instansiasi dari suatu kelas.
– Proses pembentukan obyek dari suatu class disebut dengan instantiation.
– Obyek disebut juga instances.

2. Object :
Membungkus data dan fungsi bersama menjadi suatu unit dalam program computer sebuah object merupakan dasar dari modularitas dan struktur dalam sebuah program komputer berorientasi objek.

3. Abstraksi :
Kemampuan untuk memfokus pada inti.

4. Enkapsulasi : Pembungkusan

5. Polimorfism :
Melalui pengiriman pesan. Tidak bergantung kepada pemanggilan subrutin, bahasa orientasi objek dapat mengirim pesan; metode tertentu yang berhubungan dengan sebuah pengiriman pesan tergantung kepada objek tertentu di mana pesa tersebut dikirim.

6. Inheriten :
Mengatur polimorfisme dan enkapsulasi dengan mengijinkan objek didefinisikan dan diciptakan dengan jenis khusus dari objek yang sudah ada – objek-objek ini dapat membagi (dan memperluas) perilaku mereka tanpa haru mengimplementasi ulang perilaku

Komponen yang diuji dalam Object-oriented testing adalah class object.

1. Testing levels
– Testing operations pada objects
– Testing object classes
– Testing clusters cooperating objects
– Testing OO system secara lengkap

2. Pengujian Class
Menguji terhadap semua operation yg ada dan perubahan atribut-atributnya.

3. Cluster Testing
Cluster testing digunakan untuk test integrasi terhadap kooperatif object.Identifikasi clusters menggunakan knowledge operation objects dan system features yang diimplementasikan oleh cluster tersebut.

4. Object-Interaction Testing
– Object class testing
– Complete test yang menguji class melibatkan
– Testing semua operations suatu object
– Setting dan interrogating semua attribute object
– Menguji object untuk semua state(keadaan) yg mungkin
– Inheritance akan mengakibatkan sulitnya perancangan object class tests seperti information yg diuji sulit dilokalisasi.

5. Integrasi Object
Levels integrasi sedikit berbeda untuk sistem yang berorientasi object.Cluster testing digunakan untuk test integrasi and testing clusters terhadap cooperating objects identifikasi clusters menggunakan knowledge dari operation objects dan system features yang diimplementasikan oleh cluster tersebut.

7. Approaches cluster testing Use-case atau scenario testing
– Testing berdasarkan pada interaksi user dengan sistem.
– Keuntungannya diujikan oleh user yg berpengalaman.

8. Object interaction testing
Tests barisan interaksi object yang berhenti ketika suatu operation object tidak memanggil service dari object lain.

9. Scenario-based testing
Identifikasi scenarios dari use-cases dan menambahkannya dengan diagram interaksi yang menunjukkan object-object yang terlibat dalam scenario.

10. Weather station testing
Thread pengeksekusian methode
– CommsController:request → WeatherStation:report → WeatherData:summarise
Inputs dan outputs
– Input report request dengan acknowledge yg sesuai serta output report akhir

Model Pengujian OOA dan OOD
Model desain dan analisis tidak dapat diuji dalam arti yang konvensional karena model ini tidak dapat dieksekusi, maka kajian teknis formal dapat digunakan untuk menguji kebenaran dan konsistensi model analisis dan model desain

Strategi Pengujian berorientasi objek
(Pegujian kecil ———– pengujian besar)
1. Pengujian unit
2. Pengujian integrasi
3. Validasi
4. Pengujian sistem
Desain Test Case untuk Perangkat OO Metode desain test case oleh Berard,
– Test case harus diidentifikasi secara unik dan eksplisit
– Tujuan pengujian harus dinyatakan
– Daftar langkah pengujian harus dikembangkan bagi masing-masing pengujian

Daftar Isi pengujian
1. Daftar keadaan yang ditetapkan untuk objek yang akan diuji
2. Daftar pesan dan operasi yang digunakan sebagai akibat dari Pengujian
3. Daftar pengecualian akan ditemui saat objek diuji
4. Daftar kondisi eksternal

Metode pengujian yang dapat diaplikasikan pada tingkat kelas
– Pengujian random untuk kelas OO
– Pengujian partisi dan tingkat kelas

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Pemrograman_berorientasi_objek
http://www.teknokrat.ac.id/perangkat_ajar/New%20Folder/RPL(2)/Object_Oriented_Testing.pdf

Mei 30, 2010

macam-macam jenis pemeliharaan sistem

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 1:11 pm

Definisi Pemeliharaan Sistem:
Suatu kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu sistem dalam, atau memperbaikinya sampai, suatu kondisi yang bisa diterima. Pada bulan April 1970 didefinisikan sebuah istilah untuk Teknologi Pemeliharaan yang mencakup pengertian yang lebih luas dari pada pengertian Pemeliharaan diatas. Istilah ini adalah Teroteknologi.
Merupakan siklus terakhir dari SDLC yaitu dengan pemeriksaan periodik, audit dan permintaan pengguna akan menjadi source untuk melakukan perawatan system diseluruh masa hidup system.
Tujuan dari pemeliharaan system:
• Untuk memperpanjang usia kegunaan asset dari system tersebut. Hal ini terutama penting dinegara berkembang karena kurangnya sumber daya modal untuk penggantian. Dinegara-negara maju kadang-kadang lebih menguntungkan untuk ‘mengganti’ daripada ‘memelihara’.
• Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan
• Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu.
• Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan sarana tersebut
Jenis Pemeliharaan
Pemeliharaan Korektif
Pemeliharaan korektif adalah bagian pemeliharaan sistem yang tidak begitu tinggi nilainya dan lebih membebani, karena pemeliharaan ini mengkoreksi kesalahan-kesahan yang ditemukan pada saat sistem berjalan.
Pemeliharaan Adaptif
Pemeliharaan adaptif dilakukan untuk menyesuaikan perubahan dalam lingkungan data atau pemrosesan dan memenuhi persyaratan pemakai baru. Lingkungan tempat sistem beroperasi adalah dinamik, dengan demikian, sistem harus terus merespon perubahan persyaratan pemakai. Misalnya, Undang-Undang Perpajakan yang baru mungkin memerlukan suatu perubahan dalam kalkulasi pembayaran bersih. Umumnya pemeliharaan adatif ini baik dan tidak dapat dihindari.
Pemeliharaan Perfektif
Pemeliharaan penyempurnaan mempertinggi cara kerja atau maintainabilitas (kemampuan untuk dipelihara). Tindakan ini juga memungkinkan sistem untuk memenuhi persyaratan pemakai yang sebelumnya tidak dikenal.
Ketika membuat perubahan substansial modul apapun, petugas pemeliharaan juga menggunakan kesempatan untuk mengupgrade kode, mengganti cabang-cabang yang kadaluwarsa, memperbaiki kecerobohan, dan mengembangkan dokumentasi.
Sebagai contoh, kegiatan pemeliharaan ini dapat berbentuk perekayasaan ulang atau restrukturisasi perangkat lunak, penulisan ulang dokumentasi, pengubahan format dan isi laporan, penentuan logika pemrosesan yang lebih efisien, dan pengembangan efisiensi pengoperasian perangkat.
Pemeliharaan Preventif
Pemeliharaan Preventif terdiri atas inspeksi periodik dan pemeriksaan sistem untuk mengungkap dan mengantisipasi permasalahan.
Karena personil pemeliharaan sistem bekerja dalam sistem ini, mereka seringkali menemukan cacat-cacat (bukan kesalahan yang sebenarnya) yang menandakan permasalahan potensial. Sementara tidak memerlukan tindakan segera, cacat ini bila tidak dikoreksi di tingkat awal, jelas sekali akan mempengaruhi baik fungsi sistem maupun kemampuan untuk memeliharanya dalam waktu dekat.
Siklus Hidup Pemeliharaan Sistem (SMLC)
• Permintaan Perubahan
• Mengubah permohonan pemeliharaan menjadi suatu perubahan
• Menspesifikasi perubahan Membangun pengganti
• Menguji pengganti
• Melatih pengguna dan melakukan tes penerimaan
• Pengkonversian dan pelepasan ke operasi
• Mengupdate dokumentasi
• Melakukan pemeriksaan pascaimplementasi
Prosedur Pemeliharaan Sistem
SDLC dan SWDLC
Aplikasi yang professional dalam SDLC dan SWDLC dan teknik maupun perangkat modeling yang mendukungnya adalah hal-hal keseluruhan yang terbaik yang dapat seseorang lakukan untuk meningkatkan maintainabilitas system.
Definisi data standar
Trend ke arah sistem manajemen database relasional mendasari dorongan ke normalisasi data dan definisi data standart.
Bahasa pemrograman standar
Penggunaan bahasa pemrograman standart,misalnya C atau COBOL,akan mempermudah pekerjaan pemeliharaan.
Rancangan Moduler
Programer pemeliharaan dapat mengganti modul program jauh lebih mudah daripada jika ia berurusan dengan kedeluruhan program.
Modul yang dapat digunakan kembali
Modul biasa dari kode yang dapat digunakan kembali,dapat diakses oleh semua aplikasi yang memerlukannya.
Dokumentasi standar
Diperlukan system,pemakai,perangkat lunak dan dokumentasi operasiyang standart sehingga semua informasi yang diperlukan untuk beroperasi dan pemeliharaan aplikasi khusus akan tersedia.
Kontrol sentral
Semua program,dokumentasi dan data test seharusnya diinstal dalam penyimpanan pusat dari system CASE (Computer-Aided Softtware Engineering atau computer Assisted Software Enginering.
Mengelola Pemeliharaan Sistem
Tantangan mengelola pemeliharaan sistem adalah sama dengan tantangan mengelola usaha-usaha lain . Yaitu tantangan untuk mengelola manusia.
Prioritas untuk mengarahkan pemeliharaan sistem adalah mengumpulkan sekelompok pemelihara yang berkompeten dan termotivasi,serta menyuplai mereka dengan perngkat dan sumber-sumber untuk melakukan pemeliaraan sistem yang terjadwal maupun yang tidak terjadwal.
Pemeliharaan sistem terjadwal dapat dibuat menurut kalender atau diagram gantt.Pemeliharaan tidak terjadwal biasanya dilakukan atas inisiatif pemakai dan operator. Bagaimanapun juga pihak manajemen seharusnya menetapkan suatu cara untuk mengawali,merekam,dan mengevaluasi aktivitas pemeliharaan. Dengan melalui evaluasi kegiatan pemeliharaan,seorang manager akhirnya dapat mengoptimalkan program pemeliharaan sistem secara keseluruhan.
Cara pemeliharaan sistem
Pemeliharaan sistem
Semua informasi sewaktu-waktu berubah. Pemeliharaan sistem adalah kegiatan yang membuat perubahan ini.
A. Keperluan pemeliharaan sistem
Sistem perlu dipelihara karena beberapa hal, yaitu:
1. System memiliki kesalahan yang dulunya belum terdeteksi, seingga kesalahan-kesalahan system perlu diperbaiki
2. System mengalami perubahan-perubahan karena permintaan baru dari pemakai system
3. Sistem mengalami perubahan karena perubahan lingkungan luar (perubahan bisnis)
4. System perlu ditingkatkan
B. Jenis pemeliharaan system
Pemeliharaan system dapat digolongkan menjadi empat jenis:
1) Pemeliharaan korektif
Adalah bagian pemeliharaan system yang tidak begitu tinggi nilainya dan lebih membebani, karena pemeliharaan ini mengkoreksi kesalahan-kesalahan yang ditemukan pada saat system berjalan
2) Pemeliharaan adaptif
Dilakukan untuk menyesuaikan perubahan dalam lingkungan data atau pemrosesan dan memenuhi pesyaratan pemakai baru
3) Pemeliharaan perfektif
Mempertinggi cara kerja atau maintainabilitas (kemampuan untuk dipelihara). Tindakan ini juga memungkinkan system untuk memenuhi persyaratan pemakai yang sebelumnya tidak dikenal
4) Pemeliharaan preventif
Pemeliharaan preventif terdiri atas inspeksi periodik dan pemeriksaan system untuk mengungkap dan mengantisipasi permasalahan.
C. Prosedur untuk memeliharan system
System maintainability (kemampuan pemeliharaan system) adalah kapasitas personil pemeliharaan untuk melakukan pemeliharaan korektif, adaptif, prefektif, dan preventif.
Maintainabilitas (maintainability) system bertambah jika sistemnya dirancang agar mudah diubah. Aspek ini meliputi prosedur-prosedur berikut;
• SDLC (system development life cycle) dan SWDLC (software development life cycle)
• Definisi data standar
• Bahasa pemrograman standar
• Rancangan moduler
• Modul yang dapat digunakan kembali
• Dokumentasi standar
• Control sentral

Mei 24, 2010

Tugas v-class metode pelatihan sistem

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 1:52 pm

Tuliskan dan Jelaskan Macam-Macam Metode Pelatihan Implementasi Sistem?
IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI
Kebutuhan akan Sistem Informasi merupakan hal yang dianggap memiliki tingkat lebih tinggi dan aktif dibandingkan dengan data. Informasi yang diperoleh melalui suatu sistem dan teknologi merupakan suatu pengetahuan yang akan digunakan untuk pengambilan suatu keputusan.
Pada suatu sistem informasi terdapat komponen-komponen seperti :
1. Perangkat keras (hardware) : mencakup piranti-piranti fisik seperti komputer, server, dan printer.
2. Perangkat lunak (software) atau program : sekumpulan instruksi yang memungkinkan perangkat keras untuk dapat memproses data.
3. Prosedur : sekumpulan aturan yang dipakai untuk mewujudkan pemrosesan data dan keluaran yang dikehendaki.
4. Orang : semua pihak yang bertanggung jawab dalam pengembangan sistem informasi, pemrosesan, dan penggunaan keluaran sistem informasi.
5. Basis data (database) : sekumpulan tabel, hubungan, data grafis, dan lain-lain yang berkaitan dengan penyimpanan data.
6. Jaringan komputer dan komunikasi data: sistem penghubung yang memungkinkan sumber (resources) dipakai secara bersama atau diakses oleh sejumlah pemakai.
Sistem Informasi diperlukan untuk beberapa tahapan yang satu sama lain saling berkaitan dan merupakan suatu siklus yang tidak pernah berhenti. Adapun tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Identifikasi

Pemahaman awal perlunya pembuatan sistem informasi dan permintaan formal untuk mengembangkan sistem informasi.
b. Inisiasi dan Perencanaan
Untuk menentukan spesifikasi kebutuhan dan untuk mengetahui bagaimana sistem informasi dapat membantu penyelesaian permasalahan. Pada tahap ini dibuat keputusan perlunya dibuat suatu aplikasi atau mengembangkan aplikasi yang sudah ada.
c. Analisis
Melakukan analisis untuk membuat spesifikasi dan mengstrukturkan kebutuhan pengguna serta menseleksi aplikasi lain yang sudah ada. Pada tahapan ini akan diperoleh spesifikasi fungsional sistem.
d. Perencanaan Logika
Mendapatkan dan menstrukturkan kebutuhan sistem informasi secara keseluruhan. Pada tahap ini akan diperoleh spesifikasi rinci data, laporan, tampilan, dan aturan pemrosesan.
e. Perancangan Fisik
Mengembangkan spesifikasi teknologi yang akan digunakan, pada tahap ini akan diperoleh struktur program dan basisdata, serta perancangan struktur fisik.
f. Implementasi
Pembuatan program dan basisdata, melakukan instal dan menguji sistem. Pada tahapan ini akan diperoleh program aplikasi dan dokumentasi.
g. Pemeliharaan
Melakukan pemantauan kegunaan dan fungsi sistem, serta melakukan audit sistem secara periodik.
sumber : http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_10153/title_1-kebutuhan-akan-sistem-informasi/
Prinsip Pengembangan Sistem Informasi
Sewaktu Anda melakukan proses pengembangan sistem, beberapa prinsip harus tidak boleh dilupakan. Prinsip-prinsip ini adalah sebagai berikut ini:
1. Sistem yang dikembangkan adalah untuk manajemen.
Setelah sistem selesai dikembangkan, maka yang akan menggunakan informasi dari sistem ini adalah manajemen, sehingga sistem harus dapat mendukung, kebutuhan yang diperlukan oleh manajemen. Pada waktu Anda mengembangkan sistem, maka prinsip ini harus selalu diingat.
2. Sistem yang dikembangkan adalah investasi modal yang besar.
Sistem informasi yang akan Anda kembangkan membutuhkan dana modal yang tidak sedikit, apalagi dengan digunakannya teknologi yang mutakhir.
Sistem yang dikembangkan ini merupakan investasi modal yang besar. Seperti halnya dengan investasi modal lainnya yang dilakukan oleh perusahaan, maka setiap investasi modal harus mempertimbangkan 2 hal berikut ini:
1. Semua alternatif yang ada harus diinvestigasi
Bila alternatif yang ada diabaikan dan sudah terlanjur menanamkan dana ke suatu proyek investasi tertentu, maka investor akan kehilangan kesempatan untuk menanamkan dananya ke investasi yang lain. Ekonom menyebut hal ini dengan istilah biaya kesempatan (opportunity cost). Misalnya Anda mempunyai dana sebesar Rp X,- dan bila di investasikan ke proyek A akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp A,-, maka Rp A,- ini yang disebut dengan opportunity cost. Bila Anda tidak menginvestasikan dana Anda sebesar Rp X.- tersebut ke proyek A, tetapi ke proyek B, maka proyek B harus memberikan hasil lebih besar dari opportunity cost yang hilang akibat tidak diinvestasikan ke proyek A. oleh karena itu dari beberapa alternatip investasi yang ada harus di investigasi untuk menentukan alternatip yang terbaik atau yang paling menguntungkan.
1. Investasi yang terbaik harus bernilai.
Belum tentu alternatip terbaik merupakan investasi yang menguntungkan. Investasi terbaik ini memang menguntungkan dibandingkan dengan alternatip yang lainnnya, tetapi untuk investasi terbaik ini sendiri harus juga diukur. Investasi ini baru dikatakan menguntungkan bila bernilai yang artinya manfaat (benefit) atau hasil baliknya lebih besar dari biaya untuk memperolehnya (cost). Cost-benefit analysis atau cost-effectiveness analysis dapat digunakan untuk menentukan apakah proyek investasi tersebut bernilai atau tidak.
3. Sistem yang dikembangkan memerlukan orang-orang yang terdidik.
Manusia merupakan faktor utama yang menentukan berhasil tidaknya suatu sistem, baik dalam proses pengembangannya, penerapannya, maupun dalam proses operasinya. Oleh karena itu orang yang terlibat dalam pengembangan maupun penggunaan sistem ini harus merupakan orang yang terdidik tentang permasalahan-permasalahan yang ada dan terhadap solusi-solusi yang mungkin dilakukan. Terdidik disini bukan berarti harus secara formal duduk di perguruan tinggi, tetapi dapat dilakukan secara latihan kerja (on the job training). Analis sistem harus mempunyai pendidikan terhadap masalah yang dihadapinya. Tidaklah mungkin seorang analis sistem akan mengembangkan suatu sistem informasi bisnis tanpa mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang bisnis atau akan mengembangkan sistem informasi akuntansi tanpa mengetahui pengetahuan sedikitpun tentang akuntansi dan teknologi komputer. Bagaimana mungkin nantinya analis sistem ini akan berkomunikasi dengan manajemen dan programmer yang akan membuat programnya. Demikian juga dengan pemakai sistem harus merupakan orang yang terdidik tentang sistem ini dan dapat dilakukan dengan memberikan on-the-job training kepada mereka tentang cara menggunakan sistem yang diterapkan.
4. Tahapan kerja dan tugas-tugas yang harus dilakukan dalam proses pengembangan sistem.
Proses pengembangan sistem umumnya melibatkan beberapa tahapan kerja dan melibatkan beberapa personil dalam bentuk suatu team untuk mengerjakannya. Pengalaman menunjukan bahwa tanpa adanya perencanaan dan koordinasi yang baik, maka proses pengembangan sistem tidak akan berhasil dengan memuaskan. Untuk maksud ini sebelum proses pengembangan sistem dilakukan, maka harus dibuat terlebih dahulu skedul kerja yang menunjukkan tahapan-tahapan kerja dan tugas-tugas pekerjaan yang akan dilakukan, sehingga proses pengembangan sistem dapat dilakukan dan selesai dengan berhasil sesuai dengan waktu dan anggaran yang direncanakan. Siklus atau Daur Hidup Pengembangan Sistem (Systems Development Life Cycle atau SDLC) umumnya menunjukkan tahapan-tahapan kerja dan tugas-tugas kerja yang harus dilakukan. Beberapa methodology pengembangan sistem juga menyediakan lebih terinci konsep kerja yang harus dilakukan dalam proses pengembangan sistem.
5. Proses pengembangan sistem tidak harus urut.
Prinsip ini kelihatannya bertentangan dengan prinsip nomor 4, tetapi tidaklah sedemikian. Tahapan kerja dari pengembangan sistem di prinsip nomor 4 menunjukkan langkah-langkah yang harus dilakukan secara bersama-sama. Ingatlah waktu adalah uang. Misalnya di dalam pengembangan sistem, perancangan output merupakan tahapan yang harus dilakukan sebelum melakukan perancangan file. Ini tidak berarti bahwa semua output harus dirancang semuanya terlebih dahulu baru dapat melakukan perancangan file, tetapi dapat dilakukan secara serentak, yaitu sewaktu proses pengadaan hardware.
6. Jangan takut membatalkan proyek.
Umumnya hal ini merupakan pantangan untuk membatalkan suatu proyek yang sedang berjalan. Keputusan untuk meneruskan suatu proyek atau membatalkannya memang harus dievaluasi dengan cermat. Untuk kasus-kasus yang tertentu, dimana suatu proyek terpaksa harus dihentikan atau dibatalkan karena sudah tidak layak lagi, maka harus dilakukan dengan tegas. Keraguan untuk terus melanjutkan proyek yang tidak layak lagi karena sudah terserapnya dana kedalam proyek ini hanya akan memubang dana yang sia-sia. Ekonom menyebut dana yang sudah terserap ini dengan istilah sunk cost dan sunk cost ini tidak relevan untuk digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan, karena biaya ini sudahtidak dapat ditarik kembali. Jika proyek yang tidak layak masih terus dilanjutkan lagi, maka dana berikutnya yang terserap akan sia-sia.
7. Dokumentasi harus ada untuk pedoman dalam pengembangan sistem.
Kegagalan untuk membuat suatu dokumentasi kerja adalah salah satu hal yang sering terjadi dan merupakan kesalahan kritis yang dibuat oleh analis sistem. Banyak analis sistem yang membicarakan pentingnya dokumentasi. Mereka membuat dokumentasi hasil dari analisis setelah mereka selesai mengembangkan sistemnya dan bahkan ada yang tidak membuat dokumentasi ini. Dokumentasi ini seharusnya dibuat pada waktu proses dari pengembangan sistem itu sendiri masih dalam proses, karena dokumentasi ini dapat dihasilkan dari hasil kerja tiap-tiap langkah di pengemangan sistem. Dokumentasi yang dibuat dan dikumpulkan selama proses dari pengembangan sistem dapat digunakan untuk bahan komunikasi antara analis sistem dengan pemakai sistem dan dapat digunakan untuk mendorong keterlibatan pemakai sistem.
Sumber : http://ipoen.blogspot.com/2010/01/prinsip-pengembangan-sistem.html
3. Tahap Pengembangan Sistem Informasi
Pengembangan sistem informasi saat ini terbagi atas enam fase
a. Fase Perencanaan Sistem
Dalam fase perencanaan sistem :
• Dibentuk suatu struktur kerja strategis yang luas dan pandangan sistem
informasi baru yang jelas yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan
pemakai informasi.
• Proyek sistem dievaluasi dan dipisahkan berdasarkan prioritasnya. Proyek
dengan prioritas tertinggi akan dipilih untuk pengembangan.
• Sumber daya baru direncanakan untuk, dan dana disediakan untuk
mendukung pengembangan sistem.
Selama fase perencanaan sistem, dipertimbangkan :
• faktor-faktor kelayakan (feasibility factors) yang berkaitan dengan
kemungkinan berhasilnya sistem informasi yang dikembangkan dan
digunakan,
• faktor-faktor strategis (strategic factors) yang berkaitan dengan
pendukung sistem informasi dari sasaran bisnis dipertimbangkan untuk
setiap proyek yang diusulkan. Nilai-nilai yang dihasilkan dievaluasi untuk
menentukan proyek sistem mana yang akan menerima prioritas yang
tertinggi.
– Kelayakan teknis untuk melihat apakah sistem yang diusulkan dapat
dikembangkan dan diimplementasikan dengan menggunakan teknologi
yang ada atau apakah teknologi yang baru dibutuhkan.
– Kelayakan ekonomis untuk melihat apakah dana yang tersedia cukup
untuk mendukung estimasi biaya untuk sistem yang diusulkan.
– Kelayakan legal untuk melihat apakah ada konflik antara sistem yang
sedang dipertimbangkan dengan kemampuan perusahaan untuk
melaksanakan kewajibannya secara legal.
– Kelayakan operasional untuk melihat apakah prosedur dan keahlian
pegawai yang ada cukup untuk mengoperasikan sistem yang diusulkan
atau apakah diperlukan penambahan/pengurangan prosedur dan keahlian.
– Kelayakan rencana berarti bahwa sistem yang diusulkan harus telah
beroperasi dalam waktu yang telah ditetapkan.
– Produktivitas mengukur jumlah output yang dihasilkan oleh input yang
tersedia. Tujuan produktivitas adalah mengurangi atau menghilangkan
biaya tambahan yang tidak berarti. Produktivitas ini dapat diukur dengan
rasio antara biaya yang dikeluarkan dengan jumlah unit yang dihasilkan.
– Diferensiasi mengukur bagaimana suatu perusahaan dapat menawarkan
produk atau pelayanan yang sangat berbeda dengan produk dan
pelayanan dari saingannya. Diferensiasi dapat dicapai dengan
meningkatkan kualitas, variasi, penanganan khusus, pelayanan yang lebih
cepat, dan biaya yang lebih rendah.
– Manajemen melihat bagaimana sistem informasi menyediakan informasi
untuk menolong manajer dalam merencanakan, mengendalikan dan
membuat keputusan. Manajemen ini dapat dilihat dengan adanya laporan-
laporan tentang efisiensi produktivitas setiap hari.
b. Fase Analisis Sistem
Dalam fase ini :
• Dilakukan proses penilaian, identifikasi dan evaluasi komponen dan
hubungan timbal-balik yang terkait dalam pengembangan sistem; definisi
masalah, tujuan, kebutuhan, prioritas dan kendala-kendala sistem;
ditambah identifikasi biaya, keuntungan dan estimasi jadwal untuk solusi
yang berpotensi.
• Fase analisis sistem adalah fase profesional sistem melakukan kegiatan
analisis sistem.
• Laporan yang dihasilkan menyediakan suatu landasan untuk membentuk
suatu tim proyek sistem dan memulai fase analisis sistem.
• Tim proyek sistem memperoleh pengertian yang lebih jelas tentang alasan
untuk mengembangkan suatu sistem baru.
• Ruang lingkup analisis sistem ditentukan pada fase ini. Profesional sistem
mewawancarai calon pemakai dan bekerja dengan pemakai yang
bersangkutan untuk mencari penyelesaian masalah dan menentukan
kebutuhan pemakai.
• Beberapa aspek sistem yang sedang dikembangkan mungkin tidak
diketahui secara penuh pada fase ini, jadi asumsi kritis dibuat untuk
memungkinkan berlanjutnya siklus hidup pengembangan sistem.
c. Fase Perancangan Sistem secara Umum/Konseptual
Arti Perancangan Sistem
– Tahap setelah analisis dari Siklus Hidup Pengembangan Sistem
– Pendefinisian dari kebutuhan kebutuhan fungsional
– Persiapan untuk rancang bangun implementasi
– Menggambarkan bagaimana suatu sistem dibentuk
– Yang dapat berupa penggambaran, perencanaan dan pembuatan sketsa
atau pengaturan dari beberapa elemen yang terpisah ke dalam satu
kesatuan yang utuh dan berfungsi
– Termasuk menyangkut mengkonfirmasikan
Tujuan Perancangan Sistem
– Untuk memenuhi kebutuhan para pemakai sistem
– Untuk memberikan gambaran yang jelas dan rancang bangun yang
lengkap kepada pemrogram komputer dan ahli-ahli teknik lainnya yang
terlibat
Sasaran Perancangan Sistem
– Harus berguna, mudah dipahami dan mudah digunakan
– Harus dapat mendukung tujuan utama perusahaan
– Harus efisien dan efektif untuk dapat mendukung pengolahan transaksi,
pelaporan manajemen dan mendukung keputusan yang akan dilakukan
oleh manajemen, termasuk tugas-tugas yang lainnya yang tidak dilakukan
oleh komputer
– Harus dapat mempersiapkan rancang bangun yang terinci untuk masing-
masing komponen dari sistem informasi yang meliputi data dan informasi,
simponan data, metode-metode, prosedur-prosedur, orang-orang,
perangkat keras, perangkat lunak dan pengendalian intern
Dalam fase ini :
• dibentuk alternatif-alternatif perancangan konseptual untuk pandangan
pemakai. Alternatif ini merupakan perluasan kebutuhan pemakai. Alternatif
perancangan konseptual memungkinkan manajer dan pemakai untuk
memilih rancangan terbaik yang cocok untuk kebutuhan mereka.
• pada fase ini analis sistem mulai merancang proses dengan meng-
identifikasikan laporan-laporan dan output yang akan dihasilkan oleh
sistem yang diusulkan. Data masing-masing laporan ditentukan. Biasanya,perancang sistem membuat sketsa form atau tampilan yang mereka
harapkan bila sistem telah selesai dibentuk. Sketsa ini dilakukan pada
kertas atau pada tampilan komputer.
• Jadi, perancangan sistem secara umum berarti untuk menerangkan
secara luas bagaimana setiap komponen perancangan sistem tentang
output, input, proses, kendali, database dan teknologi akan dirancang.
Perancangan sistem ini juga menerangkan data yang akan dimasukkan,
dihitung atau disimpan. Perancang sistem memilih struktur file dan alat
penyimpanan seperti disket, pita magnetik, disk magnetik atau bahkan file-
file dokumen. Prosedur-prosedur yang ditulis menjelaskan bagaimana
data diproses untuk menghasilkan output.
d. Fase Evaluasi dan Seleksi Sistem
Akhir fase perancangan sistem secara umum menyediakan point utama untuk
keputusan investasi. Oleh sebab itu dalam fase evaluasi dan seleksi sistem ini
nilai kualitas sistem dan biaya/keuntungan dari laporan dengan proyek sistem
dinilai secara hati-hati dan diuraikan dalam laporan evaluasi dan seleksi
sistem.
Jika tak satupun altenatif perancangan konseptual yang dihasilkan pada fase
perancangan sistem secara umum terbukti dapat dibenarkan, maka semua
altenatif akan dibuang. Biasanya, beberapa alternatif harus terbukti dapat
dibenarkan, dan salah satunya dengan nilai tertinggi dipilih untuk pekerjaan
akhir. Bila satu alternatif perancangan sudah dipilih, maka akan dibuatkan
rekomendasi untuk sistem ini dan dibuatkan jadwal untuk perancangan
detailnya.
e. Fase Perancangan Sistem secara Detail/Fungsional
Fase perancangan sistem secara detail menyediakan spesifikasi untuk
perancangan secara konseptual. Pada fase ini semua komponen dirancang
dan dijelaskan secara detail.
Perencanaan output (layout) dirancang untuk semua layar, form-form tertentu
dan laporan-laporan yang dicetak. Semua output direview dan disetujui oleh
pemakai dan didokumentasikan. Semua input ditentukan dan format input
baik untuk layar dan form-form biasa direview dan disetujui oleh pemakai dan
didokumentasikan.
Berdasarkan perancangan output dan input, proses-proses dirancang untuk
mengubah input menjadi output. Transaksi-transaksi dicatat dan dimasukkan
secara online atau batch. Macam-macam model dikembangkan untuk
mengubah data menjadi informasi. Prosedur ditulis untuk membimbing
pemakai dan pesonel operasi agar dapat bekerja dengan sistem yang sedang
dikembangkan.
Database dirancang untuk menyimpan dan mengakses data. Kendali-kendali
yang dibutuhkan untuk melindungi sistem baru dari macam-macam ancaman
dan error ditentukan. Pada beberapa proyek sistem, teknologi baru dan
berbeda dibutuhkan untuk merancang kemampuan tambahan macam-macam
komputer, peralatan dan jaringan telekomunikasi.
Pada akhir fase ini, laporan rancangan sistem secara detail dihasilkan.
Laporan ini mungkin berisi beribu-ribu dokumen dengan semua spesifikasi
untuk masing-masing rancangan sistem yang terintegrasi menjadi satu
kesatuan. Laporan ini dapat juga dijadikan sebagai buku pedoman yang
lengkap untuk merancang, membuat kode dan menguji sistem; instalasi
peralatan; pelatihan; dan tugas-tugas implementasi lainnya.
Meskipun sejumlah orang telah me-review dan menyetujui setiap komponen
rancangan sistem, review terhadap rancangan sistem secara detail harus
dilakukan kembali secara menyeluruh dan lengkap oleh pemakai sistem dan
personel manajemen, sedangkan profesional sistem mungkin tidak terlibat
dalam kegiatan ini.
Tujuan dilakukannya review secara menyeluruh ini adalah untuk menemukan
error dan kekurangan rancangan sebelum implementasi dimulai. Jika error
dan kekurangan atau sesuatu yang hilang ditemukan sebelum implementasi
sistem, sumber daya yang bernilai dapat diselamatkan dan kesalahan yang
tidak diinginkan terhindari. Setelah semua review secara menyeluruh selesai
dilaksanakan, perubahan-perubahan dibuat dan pemakai dan manajer sistem
menandatangani laporan perancangan secara detail.
f. Fase Implementasi Sistem dan Pemeliharaan Sistem
Pada fase ini :
• sistem siap untuk dibuat dan diinstalasi.
• Sejumlah tugas harus dikoordinasi dan dilaksanakan untuk implementasi
sistem baru.
• laporan implementasi yang dibuat pada fase ini ada dua bagian, yaitu
o rencana implementasi dalam bentuk Gantt Chart atau Program and
Evaluation Review Technique (PERT) Chart dan
o penjadwalan proyek dan teknik manajemen. Bagian kedua adalah
laporan yang menerangkan tugas penting untuk melaksanakan
implementasi sistem, seperti :
− pengembangan perangkat lunak
− Persiapan lokasi peletakkan sistem
− Instalasi peralatan yang digunakan
− Pengujian Sistem
− Pelatihan untuk para pemakai sistem
− Persiapan dokumentasi
Sumber :
fportfolio.petra.ac.id/user_files/03-024/SistemDistribusi.doc
wsilfi.staff.gunadarma.ac.id
http://hippiehippy.blogspot.com/search/label/Info%20Komputer

April 13, 2010

Pengertian Etiket

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 3:05 pm

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia diberikan beberapa arti dari kata “etiket”, yaitu :
1. Etiket (Belanda) secarik kertas yang ditempelkan pada kemasan barang-barang (dagang) yang bertuliskan nama, isi, dan sebagainya tentang barang itu.

2. Etiket (Perancis) adat sopan santun atau tata krama yang perlu selalu diperhatikan dalam pergaulan agar hubungan selalu baik.

Sumber : http://www.idonbiu.com/2009/04/pengertian-dan-perbedaan-etika-moral.html

April 11, 2010

Prinsip Etika

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 6:28 pm

1. etika kemanfaatan umum (utilitarianism ethics), yaitu setiap langkah/tindakan yang menghasilkan kemanfaatan terbesar bagi kepentingan umum haruslah dipilih dan dijadikan motivasi utama;
2. etika kewajiban (duty ethics), yaitu setiap sistem harus mengakomodasikan hal-hal yang wajib untuk diindahkan tanpa harus mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin bisa timbul, berupa nilai moral umum yang harus ditaati seperti jangan berbohong, jangan mencuri, harus jujur, dan sebagainya. Semua nilai moral ini jelas akan selalu benar dan wajib untuk dilaksanakan, sekalipun akhirnya tidak akan menghasilkan keuntungan bagi diri sendiri;
3. etika kebenaran (right ethics), yaitu suatu pandangan yang tetap menganggap salah terhadap segala macam tindakan yang melanggar nilai-nilai dasar moralitas. Sebagai contoh tindakan plagiat ataupun pembajakan hak cipta/karya orang lain, apapun alasannya akan tetap dianggap salah karena melanggar nilai dan etika akademis;
4. etika keunggulan/kebaikan (virtue ethics), yaitu suatu cara pandang untuk membedakan tindakan yang baik dan salah dengan melihat dari karakteristik (perilaku) dasar orang yang melakukannya. Suatu tindakan yang baik/benar umumnya akan keluar dari orang yang memiliki karakter yang baik pula. Penekanan disini diletakkan pada moral perilaku individu, bukannya pada kebenaran tindakan yang dilakukannya; dan
5. etika sadar lingkungan (environmental ethics), yaitu suatu etika yang berkembang di pertengahan abad 20 ini yang mengajak masyarakat untuk berpikir dan bertindak dengan konsep masyarakat modern yang sensitif dengan kondisi lingkungannya. Pengertian etika lingkungan disini tidak lagi dibatasi ruang lingkup penerapannya merujuk pada nilai-nilai moral untuk kemanusiaan saja, tetapi diperluas dengan melibatkan “natural resources” lain yang juga perlu dilindungi, dijaga dan dirawat seperti flora, fauna maupun obyek tidak bernyawa (in-animate) sekalipun.
Dengan adanya kode etik profesi, maka akan ada semacam aturan yang bisa dijadikan “guideline” untuk melindungi kepentingan masyarakat umum. Disamping itu kode etik profesi ini juga bisa dipakai untuk membangun “image” dan menjaga integritas maupun reputasi profesi, serta memberikan gambaran tentang keterkaitan hubungan antara pemberi dengan pengguna jasa keprofesian.
Dibandingkan dengan profesi-profesi yang lain seperti dokter ataupun pengacara, maka profesi keinsinyuran mungkin termasuk yang paling ketinggalan didalam membicarakan maupun merumuskan etika profesi-nya dalam sebuah kode etik insinyur (the code of ethics of engineers). Ada berbagai macam kode etik yang dibuat oleh berbagai-macam asosiasi profesi keinsinyuran yang ada, meskipun secara prinsipiil tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan dari kode etik yang satu dibandingkan dengan yang lainnya. Struktur dari kode etik profesi tersebut umumnya diawali dengan hal-hal yang bersifat umum seperti yang tercantum di bagian pendahuluan, mukadimah atau “general introductory”; dan selanjutnya diikuti dengan serangkaian pernyataan dasar atau “canon” (dari bahasa latin yang berarti aturan). Canon ini kemudian dijabarkan secara lebih luas lagi dengan memberikan uraian penjelasan untuk hal-hal yang bersifat khusus dan/atau spesifik. Kode etik insinyur yang dipublikasikan oleh ABET (1985) memulainya dengan dengan introduksi umum yang berisikan pernyataan tentang 4 (empat) prinsip etika dasar profesi keinsinyuran sebagai berikut:
Engineer uphold and advance the integrity, honor and dignity of the engineering profession by:
1. using their knowledge and skill for the enhancement of human welfare;
2. being honest and impartial, and serving with fidelity the public, their employers and clients;
3. striving to increase the competence and prestige of the engineering profession; and
4. supporting the professional and technical societies of their disciplines.
Selanjutnya kode etik versi ABET tersebut diakhiri dengan 7 (tujuh) fundamental canon yang kemudian dilengkapi lagi dengan uraian penjelasan yang termuat dalam “Suggested Guidelines for Use with the Fundamental Cannons of Ethics”. Kode etik yang sama — secara substansial tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan dengan versi ABET — juga dibuat oleh National Society of Professional Engineers (1998) yang strukturnya terdiri dari pembukaan (preamble), 5 (lima) fundamental canons, aturan praktis untuk mendukung dan menjelaskan canon tersebut, dan satu set yang berisikan 11 (sebelas) “professional obligations”, dan beberapa keterangan penutup. Bagaimana dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sendiri? Dalam hal ini PII telah berhasil merumuskan dan menyusun Kode Etik Insinyur Indonesia yang diberi nama “Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia” yang terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu
1. Prinsip-prinsip Dasar yang terdiri atas 4 (empat) prinsip dasar, dan
2. Tujuh Tuntunan Sikap (Canon).
Selain PII, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI, 1996) telah pula berhasil menetapkan Kode Etik dan Kaidah Tata Laku Keprofesian Arsitek yang rumusannya terdiri atas 7 (tujuh) pasal prinsip dasar dan 31 (tiga puluh satu) ayat tingkah laku yang memberi penjabaran terhadap 7 pasal prinsip dasar tersebut. Substansi dari kode etik profesi yang diformulasikan tersebut umumnya mencakup permasalahan penerapan keahlian profesi yang semata ditujukan untuk kesejahteraan dan kepentingan umat manusia; menjaga martabat, integritas, kehormatan, kompetensi, kualitas, maupun reputasi keprofesian; dan sebagainya. Selanjutnya persoalan yang masih harus dihadapi adalah bagaimana implementasi kode etik yang telah dirumuskan dengan baik itu dalam kenyataan (praktek) sehari-harinya ? Apakah kode etik itu cukup operasional untuk dipatuhi; dan apakah persoalan-persoalan yang menyangkut tindakan yang tidak profesional, melanggar (kode) etika profesi, serta segala macam bentuk penyimpangan maupun penyalah-gunaan keahlian sudah bisa diselesaikan dengan aturan (kode etik) yang ada.

Sumber :http://angga_be.blog.plasa.com/

Struktur Makna Hidup

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 6:27 pm

Kratochvil (dalam Bastaman 1996) membedakan struktur makna hidup yaitu sebagai berikut :
1. Struktur Paralel
Suatu struktur sistem nilai disebut struktur paralel jika beberapa nilai memiliki bobot sama kuat. Tidak ada yang lebih kuat atau yang lebih lemah. Contoh : orang yang sekaligus mencintai pekerjaanya dan keluarga nya. Struktur ini dianggap lebih sehat karena ketika suatu nilai tidak terpenuhi atau hilang, maka dapat digantikan oleh nilai lain yang setara. Seseorang yang berorientasi pada struktur ini akan menemukan pilihan dan peluang yang lebih banyak dan lebih mudah untuk menghargai pihak lain yang keadaanya berbeda.
2. Struktur Piramidal
Suatu struktur sistem nilai disebut sturktur piramidal jika menempatkan waktu nilai sebagai nilai tertinggi atau tunggal, sedangkan nilai-nilai yang lain memiliki peringkat dibawahnya atau seringkali diabaikan. Contoh : orang yang hanya mencintai pekerjaannya dan mengabaikan kegiatan-kegiatan yang lain. Sistem ini memiliki kelemahan yaitu ketika nilai tertinggi tidak terpenuhi, maka tidak dapat digantikan oleh nilai yang lain sehingga sistem nilai seakan-akan runtuh. Orang yang berpegang hanya pada satu nilai tunggal memiliki kecenderungan untuk fanatik dan memiliki ambang toleransi yang rendah. Seseorang yang berorientasi pada struktur ini sulit untuk memahami perbedaan.

Sumber : http://indahoktavianti.ngeblogs.com/2009/10/19/makna-hidup/

Penyebab Timbulnya Makna Hidup

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 6:26 pm

Menurut Frankl (2003), ada 3 penyebab timbulnya makna dalam hidup ini yang dapat membawa manusia kepada makna hidupnya, yaitu :
a. Memaknai Makna Kerja
Menurut Frankl manusia adalah mahluk yang bertanggungjawab dan harus mengaktualkan potensi makna hidupnya. Makna hidup bukanlah untuk dipertanyakan tetapi untuk dijawab, karena kita bertanggung jawab atas hidup ini. Jawaban tidak hanya diberikan dalam kata-kata tetapi yang utama adalah dengan berbuat, dengan melakukan (Frankl, 2003). Aktualisasi nilai-nilai kreatif yang bisa memberikan makna kepada kehidupan seseorang biasanya terkandung dalam pekerjaan seseorang.
Menurut Frankl (2003) pekerjaan memprentasikan keunikan keberadaan individu dalam hubungannya dengan masyarakat dan karenanya memperoleh makna dan nilai. Makna dan nilai ini berhubungan dengan pekerjaan seseorang sebagai kontribusinya terhadap masyarakat dan bukan pekerjaannya yang sesungguhnya yang dinilai. Dalam kasus-kasus dimana pekerjaan yang dimiliki seseorang tidak membawanya kepada pemenuhan diri, maka bukan pekerjaannya yang harus diubah, melainkan sikap orang tersebut dalam dan terhadap pekerjannya.
b. Memaknai makna cinta
Cinta hanyalah cara untuk mencapai keberadaan orang lain pada bagian yang paling dalam dari kepribadiannya. Tak seorangpun dapat menyadari adanya sesuatu yang sangat esensial dari keberadaan orang lain jika dia tidak mencintainya. Dengan bertindak secara spiritual dalam cinta dia dapat melihat ciri-ciri dan bentuk esensial pada orang yang dicintai ; atau lebih dari itu, dia melihat apa yang potensial dari dalam dirinya ; yang belum teraktualisasikan tetapi harus diaktualisasikan. Karenanya, dengan cintanya, seseorang yang sedang mencintai dapat menjadikan orang yang dicintainya mengaktualkan potensi-potensinya dengan membuatnya sadar apa yang bisa dijadikan dan apa dia harus menjadi, dia membuat potensi-potensinya menjadi kenyataan.
Dalam cinta terjadi penerimaan penuh akan nilai-nilai, tanpa kontribusi maupun usaha dari yang dicintainya. Cinta akan mampu memperkaya si pecinta. Cinta mengungkapkan individu untuk melihat inti spiritual orang lain, nilai-nilai potensial dan hakekat yang dimilikinya (Frankl, 2004) cinta memungkinkan kita untuk mengalami kepribadian orang lain dalam dunianya sendiri dan dengan demikian memperluas dunia kita sendiri. Bahkan ketika pengalaman kita dalam bercinta berubah menjadi kisah yang menyedihkan, kita tetap diperkaya dengan diberikan makna yang lebih mendalam akan hidup. Manusia tetap rela untuk menanggung resiko dan mengalami sekian banyak kisah cinta yang menyedihkan asalkan dapat mengalami satu saja kisah cinta yang membahagiakan.
Dalam logoterapi, cinta yang membahagiakan sebagai epiphenomenon keinginan-keinginan seksual dan insting belaka yang dalam perspektif ini disebut juga sebagai sublimasi cinta secara primer adalah fenomena sebagaimana seks. Normalnya, seks adalah bentuk ekspresi cinta. Cinta tidak dapat dipahami sebagai suatu efek samping saja dari seks, namun seks adalah suatu cara pengungkapan pengalaman dari puncak kebersamaan yang disebut cinta.
c. Memaknai makna penderitaan
Kapanpun sesorang bisa berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan, situasi yang tak terhindarkan, nasib yang tak bisa berubah, penyakit yang tak terobati ; dengan demikian seseorang itu diberikan kesempatan terakhir untuk mengaktualisasikan nilai tertinggi. Untuk mengisi makna terdalam, yaitu makna penderitaan. (Frankl, 2003)
Penderitaan memberikan suatu makna manakala individu menghadapi situasi kehidupan yang tak dapat dihindari. Hanya bilamana suatu keadaan sungguh-sungguh tidak bisa diubah-ubah dan individu tidak lagi memiliki peluang untuk merealisasikan nilai-nilai kreatif, maka saatnyalah untuk merealisasi nilai-nilai bersikap tiba. Dalam penderitaan individu berada dalam ketegangan atas apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam kenyataan.

Sumber : http://indahoktavianti.ngeblogs.com/2009/10/19/makna-hidup/

Sumber-Sumber Makna Hidup

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 6:25 pm

Setiap individu dapat menemukan makna dalam hidupnya dengan menelusuri sumber-sumber makna hidup, Frankl (dalam Guttman, 1996) menunjukkan tiga sumber makna hidup, yaitu :
a. Nilai-nilai Kreatif (Creative Values)
Nilai-nilai kreatif adalah nilai-nilai yang dapat dipenuhi melalui berbagai tindakan yang nyata misalnya dengan cara menciptakan suatu pekerjaan atau melakukan suatu perbuatan. Inti dari nilai ini adalah memberikan sesuatu yang berharga dan berguna bagi kehidupan. Lingkup kegiatannya sangat luas, mulai dari pelaksanaan tugas hingga aktifitas yang kreatif seperti pekerjaan, belajar, kegemaran, dan hobi. Aktivitas-aktivitas itu mempresentasikan keunikan keberadaan individu dalam hubungannya dengan masyarakat dan karenanya memperoleh makna dan nilai. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab dengan sepenuh hati, dan bila hal itu dilakukan maka secara tidak langsung ia telah menghayati aktivitasnya. Bukan karena kewajiban rutin tetapi lebih karena nilai yang terkandung didalamnya. Menurut Pattakos (2004) memberi makna pada pekerjaan atau aktivitas lebih dari sekedar menyelesaikan sebuah tugas untuk mendapatkan imbalan nyata seperti : uang, status atau gengsi, tetapi memiliki komitmen tehadap nilai dan tujuan yang mungkin tidak kelihatan “nyata” dan penuh makna, yaitu penghargaan kepada kebutuhan-kebutuhan yang terdalam dari kita. Menemukan nilai melalui tindakan kreatif merupakan cara mewujudkan potensi yang dimiliki. Sejalan dengan itu Maslow (1987) mengatakan bahwa tujuan utama upaya manusia adalah aktualisasi diri yakni penggunaan potensi yang dimiliki secara penuh. Melakukan tindakan kreatif merupakan wujud dari kepedulian, tanggung jawab, dan kesadaran hidup bersama dengan manusia lain. Semakin teraktualisasi potensi maka semakin bermakna hidup yang dijalani.
b. Nilai penghayatan (Experietial Values)
Seseorang mencoba memahami, meyakini, dan menghayati berbagai nilai yang ada dalam kehidupan. Nilai-nilai ini diperoleh melalui apa yang dijalani dalam hidup sehari-hari : pengalaman akan kebenaran, kebaikan, keindahan, dan cinta. Apabila seseorang dapat mengalami dan menghayati nilai-nilai tersebut dapat dikatakan bahwa orang itu menemukan makna hidupnya.
c. Nilai-nilai Bersikap (Attitudinal Values)
Pendalaman dari nilai bersikap pada intinya menuntut seseorang untuk dapat mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi berbagai peristiwa dan kondisi-kondisi yang mungkin tidak menyenangkan dan sulit untuk dihindari. Ketika dihadapkan pada kondisi tertentu yang tidak bisa diubah maka mengubah cara untuk menyikapi kondisi merupakan salah satu cara dalam menemukan makna hidup. Nilai bersikap dianggap merupakan nilai yang paling tinggi karena sekalipun pada kondisi ini individu tidak bisa berkreativitas ataupun kehilangan kesempatan untuk melakukan penghayatan, nyatanya ia tetap dapat menemukan makna hidupnya melalui penyikapan yang tepat terhadap kondisi yang sedang dihadapinya.
Hidup adalah sebuah kesempatan untuk membentuk nasib melalui nilai-nilai kreatif dengan menentukan sikap terhadap nasib melalui nilai-nilai bersikap, di sanalah pencapaian makna penderitaan terjadi. Dengan merealisasi nilai-nilai bersikap ini, berarti individu menunjukkan keberanian dan kemuliaan menghadapi penderitaannya. Penderitaan dapat membuat manusia menjadi matang karena melalui penderitaan itulah manusia belajar dan semakin memperkaya hidupnya (Bastaman, 1977).

Sumber : http://indahoktavianti.ngeblogs.com/2009/10/19/makna-hidup/

Landasan Filosofis Makna Hidup

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 6:24 pm

Menurut Bastaman, (1996) Logoterapi mempunyai tiga landasan filosofis yang antara satu dan lainnya berkaitan erat dan saling menunjang. Makna hidup merupakan salah satu diantara filosofi yang saling berkaitan itu. Landasan itu adalah :
a. Kebebasan berkehendak (Freedom of will)
Dalam keadaan logoterapi, manusia adalah mahluk yang terbatas dan memiliki kebebasan yang juga terbatas, artinya manusia tidak lepas dari kondisi-kondisi yang melingkupinya, tetapi bebas untuk menyikapi berbagai kondisi yang dihadapi. Frankl (1984) menyatakan bahwa hidup manusia tidak sepenuhnya dikondisikan dan dipengaruhi, ia dapat menentukan sikap untuk menyerah atau mengatasi keadaan nya bahkan pada situasi yang tidak dapat diubah, ia dapat memutuskan hidup yang dijalani dan hidupnya di masa yang akan datang. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan untuk menentukan sikap (freedom to take a stand) terhadap kondisi itu. Manusia juga mampu mengambil jarak (to detach) terhadap kondisi-kondisi diluar dirinya, bahkan terhadap dirinya sendiri (self ditechment). Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “the self-determining being” yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap baik dan penting dalam hidupnya. Menurut Frankl (1984) kebebasan adalah setengah dari kebenaran, maksudnya di dalam kebenaran terkandung aspek negatif yaitu kebebasan, dan aspek positifnya adalah sikap bertanggung jawab, oleh karena itu agar kebebasan tidak berkembang menjadi kesewenangan maka dalam pandangan logoterapi kebebasan harus diimbangi dengan sikap tanggung jawab (responsibility). Logoterapi menganggap sikap tanggung jawab ini merupakan esensi dasar kehidupan manusia.
b. Kehendak Hidup Bermakna (Will to Meaning)
Menurut Frankl (1968) setiap manusia secara alamiah memiliki kehendak untuk hidup bermakna. Kehendak inilah yang pada akhirnya mengarahkan kehidupan manusia untuk menemukan makna hidupnya. Logoterapi memandang perjuangan untuk menemukan makna hidup merupakan motivasi utama dalam hidup manusia. Hasrat ini memotivasi setiap orang untuk memberikan sesuatu yang berharga dan berguna dalam kehidupan dengan melakukan tindakan-tindakan nyata misalnya : bekerja, berkarya, dan melakukan kegiatan-kegiatan penting lainnya. Tujuannya adalah agar hidup berharga dan dihayati secara bermakna. Hasrat hidup bermakna adalah fenomena yang benar-benar nyata dan dirasakan penting dalam kehidupan manusia. Hasrat ini membantu manusia mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
Frankl menyebutnya sebagai “the will to meaning” bukan “the drive to meaning” karena makna dan nilai-nilai hidup tidak mendorong (to pust, to drive) tetapi bersifat menarik (to pull) dan menawarkan (to offer) seseorang untuk memenuhinya.
c. Makna Hidup (Meaning of Life)
Hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar, berharga, dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang. Makna hidup terkandung dan tersembunyi dalam setiap situasi yang dihadapi manusia, ia mengarahkan manusia untuk mengambil peranan dalam hidup bersama dengan manusia lain. Jika seseorang berhasil dalam menemukan makna hidupnya akan menimbulkan penghayatan bahagia (happiness) sebagai efek sampingnya (Bastaman, 1996). Makna hidup ini merupakan sesuatu yang unik dan khusus, dan hanya bisa dipenuhi oleh individu yang bersangkutan.

Sumber : http://indahoktavianti.ngeblogs.com/2009/10/19/makna-hidup/

Kepercayaan agama tentang tujuan hidup

Filed under: Uncategorized — ratni213 @ 6:24 pm

Sering disarankan bahawa agama merupakan gerak balas keperluan manusia bagi memberhentikan kekeliruan, atau ketakutan mati (dan hasrat iringan untuk menghidup). Dengan mentakrifkan sebuah alam di luar kehidupan (alam rohaniah), keperluan ini dapat dipenuhi dengan pembekalan makna, tujuan dan harapan untuk kehidupan kita yang tidak bermakna, tidak bertujuan serta yang terbatas. Kebanyakan orang yang percaya kepada Tuhan peribadi akan bersetuju bahawa Tuhan adalah “di mana kita hidup, bergerak dan wujud”. Menurut tanggapan ini, kami harus mencari pihak yang berkuasa yang boleh memberikan makna kepada kehidupan kita dan membekalkan kita dengan tujuan melalui panduannya. Keputusan mempercayai pihak berkuasa ini digelarkan “pelompatan kepercayaan” dan pada umumnya, kepercayaan ini merupakan makna hidup orang yang beriman.
Sebuah contoh yang menunjukkan bagaimana agama boleh mencipta tujuan boleh didapati dalam cerpen penciptaan Wasiat Lama: tujuan manusia adalah untuk “berhasil, berganda dan menambah lagi di alam, serta menaklukinya” Genesis 1:28. Ini mempertunjukkan bahawa pembiakan, pemeliharaan alam dan kawalan persekitaran merupakan tiga tujuan yang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk manusia. Walau bagaimanapun, arahan-arahan yang diberikan oleh Tuhan dan makna hidup (atau tujuan kewujudan) tidak merupakan benda yang sama.
Lagi satu contoh, yakni kali ini daripada Wasiat Baru, adalah dua rukun yang teragung daripada Mark 12:28-31:
“Rukun yang pertama di antara semua rukun ialah: ‘Dengar, O Israel, Tuhan adalah satu. Dan engkau kena memberi kekasihan kepada Tuhan dengan setulus hati, dengan setulus jiwa, dengan segala minda, dan dengan segala kekuatan. Ini merupakan rukun pertama. Dan yang kedua adalah: “Engkau kena menyayangi jiran engkau seperti diri kendiri.’ Tiadanya rukun yang lebih mustahak daripada rukun-rukun ini.”
“Soal Jawab Agama Secara Ringkas Westminster” (“The Westminster Shorter Catechism”) menyelidiki sejarah mengenai apa yang Tuhan telah mengajari manusia, dan meringkaskannya pada permulaan terbitannya: “tujuan utama manusia adalah untuk menyembah Tuhan, dan merasai nikmatNya untuk selama-lamanya”.
Pandangan Islam adalah bahawa Tuhan mencipta manusia untuk satu tujuan sahaja, iaitu untuk menyembahNya: “Aku tidak mencipta jin dan manusia melainkan untuk menyembah Aku.” (Qur’an, 51:56). Penyembahan dalam Islam bukan sahaja bermakna melaksanakan upacara amal, tetapi juga merangkumi bekerja, menghasilkan, membuat pembaharuan serta meningkatkan taraf penghidupan supaya dapat mentaati Allah. Bagi orang Islam, hidup adalah satu ujian. Kejayaan anda dalam ujian ini akan menentukan ke mana anda akan pergi: Syurgakah ataupun Neraka.
Meskipun, tiada satu pun daripada pendekatan-pendekatan ini dapat memberi jawapan yang sempurna kepada soalan “Apa makna hidup?” apabila soalan ini ditanyai dalam konteks falfasah. Bukannya jawapan yang sempurna bila dikatakan: “Percayailah dan engkau akan memahami.” Ini disebabkan ia tergantung kepada kepercayaan yang membuta babi terhadap pengajaran yang disampaikan, dan bukannya melalui logik, kebijaksanaan dan pengalaman peribadi. Dari segi ini, agama cuma memberitahu anda melalui siri rukun tentang apa yang kena dipercayai dan apa perlu dibuat.
Jawapan-jawapan teologi yang tulen seumpama ini menimbulkan soalan-soalan lain. Contohnya, sekira kita wujud untuk mematuhi, bagaimanakah pematuhan ini akan memperbaiki kita? Sekiranya kita hidup untuk menyembah Tuhan, apakah tujuan Tuhan, dan bagaimanakah ini akan memperbaiki kita? Bagi orang-orang yang beriman, mereka mungkin juga berasa bahawa perintah-perintah yang dogmatik sebegini tidak memuaskan.

Sumber : http://ms.wikipedia.org/wiki/Makna_hidup

Older Posts »

Blog di WordPress.com.